YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Para peneliti mengatakan, sebagai negara yang kaya akan hasil produksi pertanian dan perkebunan, Indonesia berpotensi mengembangkan bioetanol sebagai bahan pengganti bensin.
Hal tersebut diungkapkan oleh anggota tim peneliti dari Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Teddy Nurcahyadi, di Yogyakarta, Jumat (25/9).
"Bahkan di masa depan, konversi bahan bakar ke bioetanol dapat menjadi solusi terhadap semakin menipisnya kandungan minyak bumi," ujar Teddy.
Menurutnya, bioetanol dapat menjadi pilihan dalam mengurangi kerusakan lingkungan sebagai efek samping berkembangnya dunia industri dan transportasi. Dia mengatakan, ada beberapa kelebihan yang dimiliki bioetanol dibanding bahan bakar bensin, antara lain karena proses produksi lebih ramah lingkungan dan melibatkan penanaman tumbuhan yang menyerap karbon dioksida di atmosfer. Selain itu, pemakaian bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, lanjut Teddy, lebih ramah lingkungan karena menghasilkan polusi yang lebih sedikit.
"Bioetanol juga memiliki angka oktan yang lebih tinggi daripada bensin sehingga jika dicampurkan pada bensin dengan komposisi tertentu bisa memperbaiki kinerja mesin," katanya.
Dia menambahkan, tingginya angka oktan bioetanol memiliki pengaruh yang bagus terhadap emisi gas buang mesin. Angka oktan yang tinggi menyebabkan pembakaran di dalam mesin berlangsung lebih sempurna sehingga hasil pembakaran yang tidak sempurna berupa karbon monoksida dan hidrokarbon tak terbakar lainnya berkurang.
"Pencampuran bioetanol pada bensin berdasarkan hasil pengujian terbukti menyebabkan turunnya polusi karbon monoksida dan hidrokarbon tak terbakar dari mesin bensin," katanya.
Bioetanol, katanya, merupakan salah satu jenis bahan bakar terbarukan. Bahan bakar ini dapat diproduksi dari berbagai jenis produk pertanian atau perkebunan, seperti tebu, singkong, beras, gandum, sorgum, kentang, jagung, dan buah-buahan.
"Selama kita masih bisa bercocok tanam, selama itu pula kita bisa mengolah aneka produknya menjadi bioetanol," katanya.
Namun, Teddy mengakui, bioetanol memang mempunyai kelemahan yang bersifat teknis. Kelemahan itu muncul karena bahan bakar tersebut memiliki kandungan energi yang lebih rendah daripada bensin.
"Jalan keluar untuk mengatasi kelemahan itu sudah ada, tim kami tertarik melakukan penelitian dalam upaya mengatasi kelemahan teknis bioetanol agar bahan bakar itu dapat dimanfaatkan lebih maksimal di masa depan," katanya.
Tampilkan postingan dengan label Bahan Bakar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahan Bakar. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 16 Oktober 2010
Bahan Bakar Bioetanol dari Limbah Salak
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan kompor berbahan bakar bioetanol yang terbuat dari limbah salak.
"Bioetanol sebagai bahan bakar pengganti minyak maupun elpiji terbuat dari limbah salak yang cacat panen atau busuk," kata mahasiswa UGM yang mengembangkan kompor bioetanol, Adhita Sri Prabakusuma, Senin (11/10/2010).
Ia mengatakan, selama ini salak yang tidak layak jual tersebut sering dibuang oleh para petani salak atau dibiarkan membusuk di pekarangan kebun salaknya.
"Di Dusun Ledoknongko, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, DIY, yang merupakan salah satu sentra penghasil salak dalam satu bulan dihasilkan sekitar 1-3 ton limbah salak," katanya.
Menurut dia, dari 10 kilogram limbah salak, dihasilkan sedikitnya 1 liter bioetanol. Untuk membuat bioetanol, limbah salak difermentasikan lebih dulu selama satu pekan dengan menambah ragi dan urea.
"Cairan fermentasi tersebut dipanaskan dengan suhu 70 derajat celsius pada tabung destilasi. Hasil pemanasan ini nantinya menghasilkan bioetanol," katanya.
Namun, menurut dia, belum banyak masyarakat di Dusun Ledoknongko yang mau mengolah limbah salak menjadi bahan bakar kompor.
"Tidak mudah menyosialisasikan inovasi tersebut karena tingkat pendidikan masyarakat di Dusun Ledoknongko berbeda-beda. Apalagi ini barang baru, secara ekonomis memang belum memuaskan secara langsung," katanya.
Ia mengatakan, inovasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengatasi limbah salak, mendukung program pertanian terpadu, dan menerapkan energi ramah lingkungan.
"Kecamatan Turi sebagai sentra penghasil salak di DIY dapat diinisiasi sebagai desa mandiri energi yang mengembangkan pertanian berkelanjutan dan terpadu," katanya.
"Bioetanol sebagai bahan bakar pengganti minyak maupun elpiji terbuat dari limbah salak yang cacat panen atau busuk," kata mahasiswa UGM yang mengembangkan kompor bioetanol, Adhita Sri Prabakusuma, Senin (11/10/2010).
Ia mengatakan, selama ini salak yang tidak layak jual tersebut sering dibuang oleh para petani salak atau dibiarkan membusuk di pekarangan kebun salaknya.
"Di Dusun Ledoknongko, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, DIY, yang merupakan salah satu sentra penghasil salak dalam satu bulan dihasilkan sekitar 1-3 ton limbah salak," katanya.
Menurut dia, dari 10 kilogram limbah salak, dihasilkan sedikitnya 1 liter bioetanol. Untuk membuat bioetanol, limbah salak difermentasikan lebih dulu selama satu pekan dengan menambah ragi dan urea.
"Cairan fermentasi tersebut dipanaskan dengan suhu 70 derajat celsius pada tabung destilasi. Hasil pemanasan ini nantinya menghasilkan bioetanol," katanya.
Namun, menurut dia, belum banyak masyarakat di Dusun Ledoknongko yang mau mengolah limbah salak menjadi bahan bakar kompor.
"Tidak mudah menyosialisasikan inovasi tersebut karena tingkat pendidikan masyarakat di Dusun Ledoknongko berbeda-beda. Apalagi ini barang baru, secara ekonomis memang belum memuaskan secara langsung," katanya.
Ia mengatakan, inovasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengatasi limbah salak, mendukung program pertanian terpadu, dan menerapkan energi ramah lingkungan.
"Kecamatan Turi sebagai sentra penghasil salak di DIY dapat diinisiasi sebagai desa mandiri energi yang mengembangkan pertanian berkelanjutan dan terpadu," katanya.
93af2cca-48f0-448c-8f49-4e53079d4c38
1.03.01
Langganan:
Postingan (Atom)
